''my journey''

Posts tagged ‘TREVELING ASYIK’

MY FIRST STEPS TO THE WORLD. “AKU..BICA NNDILIII”

Senyum Aisyah "Aku bisa sendiliii...". Foto by: Inna Putri

Senyum Aisyah “Aku bisa sendiliii…”. Foto by: Inna Putri

“Aish… enndiliii” kata-kata yang selalu diucapkan Aisyah. Rasa penasaran dan percaya dirinya selalu membuat takjub dan sedikit takut, mampukah ia?.

Masih ragu, bisakah aisyah kubawa berpetualang beberapa hari tanpa kenyaman yang selalu melingkupinya. Benar saja, perjalanan awal saja sudah melelahkan. Semalaman di kereta, pasti bukan hal yang nyaman untuknya. Tapi lihatlah, tetap saja lincahnya, isengnya, cerianya tak surut. Bahkan ketika penumpang lain sudah menyerah dan tertidur, aisyah masih bolak balik dilorong. Dengan keterpaksaan, akhirnya aisyah baru tertidur lewat jam 1 malam, subhanallah.

aisyah dan abi tidur di kereta menuju st. Solo Balapan, Solo

Aisyah dan abi tidur di kereta menuju st. Solo Balapan, Solo.

Sampai tujuan, tak ada satu pun guratan lelah di wajahnya. “Sywah..syuwah..” teriakan bahagia melihat hamparan sawah hijau, pencuci mata pertamanya, setelah “terpaksa” tidur semalam. Masya Allah, kuat sekali anak ini.

The truly journey begun. Sampai di stasiun Solo Balapan cuaca mendung, tapi si “matahari” satu ini tetap bersemangat melihat kereta hilir-mudik, bahkan cerahnya makin terpancar demi pertemuannya dengan “kaka Cemin”. Aisyah selalu jadi penggemar anak-anak yang lebih tua darinya. Maka saat itulah, Aisyah mengangkat “kaka cemin” menjadi kawan seperjalanannya.

kawan seperjalanan (aisyah & kk cemin) foto by: Amriyahya Photographi)

kawan seperjalanan (Aisyah & kk Cemin). Foto by: Amriyahya Photographi)

Perjalanan berlanjut dengan menggunakan bus menuju restoran Pring Sewu, Solo, sebagai tempat berkumpul dan pembukaan acara. Disinilah Aisyah menemukan tempat terbaiknya sebagai “penyanyi dadakan”. Bakat terpendam “sebenernya ampun-ampunan dipendem ama uminya” sebagai penyanyi kelas apotek pun meluap-luap tak terbendung, tentu saja tanpa melupakan rutinitas berlari-lari sambil berteriak-teriak.

Pak HIDAYAT NUR WAHID hadir sebagai pembuka acara #mila4dtoekangpoto. poto by: dudi iskandar

Pak Hidayat Nur Wahid hadir sebagai pembuka acara #mila4dtoekangpoto. Foto by: Dudi Iskandar

Perjalanan pun masih berlanjut menuju padepokan keris “Brojobuwono”, tempat yang sedikit menyeramkan sesungguhnya, apalagi untuk anak seusia aisyah. Dan tarraaa…yang dikhawatirkan malah berlari-lari dan sempat ikut-ikutan menari bersama para kakak-kakak yang sedang belajar menari. Allahu Rabbana.. Subhanallah.

penari keris

Penari keris. Foto by: Saeful Agus

Toekangpoto di padepokan keris "Brojo Buwono"

Toekangpoto di padepokan keris “Brojobuwono”. Foto by: Hardi anto no

Hanya sedikit waktu yang dimiliki Aisyah untuk tidur siang dan beristirahat, namun tenaganya seperti full charger saja, tiada habisnya. Malam saat persinggahan terakhir untuk hari ini. Bus berhenti di depan masjid Agung Karang Anyar. Terpikir untuk segera beristirahat karena di luar pun hujan sangat deras. Apa dikata, si “bocah cilik” masih sibuk dengan permainannya sendiri. Bahkan ketika semua sudah tertidur, aksi jahilnya makin menjadi. Amah-amah yang sudah tertidur ditepok-tepok sampai terbangun. Hehehe… maaf ya amah semua…

aisyah bernyanyi @Aula mesjid Agung Karang Anyar

aisyah bernyanyi @Aula mesjid Agung Karang Anyar. foto by: Joko Ardi

amah semua makasih ya sudah nemenin aisyah dan maaf aisyah suka iseng :)

amah semua makasih ya sudah nemenin aisyah dan maaf aisyah suka iseng :). Foto by: Hardi anto no

Hari kedua pun dimulai, kami memulai hari jauh sebelum matahari memancar. Jam 3 pagi, sudah mulai mengantri kamar mandi. Aisyah??!!… tentu saja masih bobo cantik. Shalat Subuh pun tertunaikan dan demi mengejar “matahari terbit”, maka kami bergerak menuju waduk Lalung menggunakan bus. Masih tidur, Aisyah pun harus dibopong dan dipindahkan tidurnya, dari kenyamanan lantai mesjid Agung ke empuknya kursi bus.

waduk lalung2

Sunrise di waduk Lalung. Foto by: Wicak Yuuhuu.

Sampai di tujuan, para toekangpoto mulai berseliweran mencari tempat yang paling pas untuk menghasilkan karya foto terbaik. Sedang saya hanya menikmati alam sambil membopong si “ucrit” yang masih terlelap. Bosan menunggu, ide untuk petualangan sendiri pun muncul. Saya memutuskan berjalan-jalan sendiri menuju perkampungan untuk menyapa para warga, mencari suasana lain dari perjalanan ini. Di Tengah perjalanan Aisyah terbangun dan langsung tertarik dengan suasana sekitarnya. Rumah- rumah kayu berhalaman luas, suasana kampung yang damai, dan perternakan sapi!!! “moooo… mooo…” bahagia Aisyah langsung menunjuk-nunjuk sapi sambil ikut melenguh “mooo…moooo.. “. Antusias tapi takut-takut Aisyah maju mundur untuk mendekati sapi-sapi yang berukuran “wah” tersebut. Puas memandangi sapi-sapi, kami mencari warung untuk membeli sarapan, kemudian kembali ke bus. Para Tepe’rs ternyata telah selesai memburu “primadona”nya dan sedang sarapan pagi bersama. Kami pun ikut nimbrung menyantap makanan yang disediakan panitia.

Sarapan di waduk Lalung.

Sarapan di waduk Lalung.

Perjalanan pun berlanjut menuju kebun teh “Kemuning”. Diperjalanan, ternyata ooh ternyata, Aisyah ngantuk berat sampai-sampai tertidur dipelukan pak Eddy. Sampai di tujuan, hamparan tanaman teh bagai karpet hijau tebal terpampang, lnatunan “Subhanallah” tak kuasa dihentikan. Akhirnya sang tuan putri pun terbangun, sekali lagi “syuwah.. syuwah” yang diucapkan, salah memang (kebun teh kok disebut sawah, hehehe..) tapi begitulah cara Aisyah menunjukkan ketakjubannya akan indahnya ciptaan Allah SWT. Seperti biasa, walaupun baru bangun tidur, rasa penasarannya tak terbendung. Mulailah Aisyah minta untuk menjelajah diantara tanaman teh yang rapat. Tidak hanya itu, Aisyah pun minta dipanggul di bahu (beraaatt… hiks!!), agar leluasa menikmati pemandangan sekitar. Ternyata ada agenda kejutan dari panitia untuk seluruh peserta, “Potong Tumpeng” milad ke 4 toekang foto. Wh..wah.. seru.. dan lebih seru lagi makan bersama dari satu nampan, hmmm… nikmat.

Acara potong tumpeng milad ke 4 Toekangpoto. Foto by: Dudi Iskandar.

Acara potong tumpeng milad ke 4 Toekangpoto. Foto by: Dudi Iskandar.

Makan nasi tumpeng bersama. Foto by: Dudi Iskandar.

Makan nasi tumpeng bersama. Foto by: Dudi Iskandar.

Aisyah dan umi di kebun teh kemuning. foto by: hafiez agam

Aisyah dan umi di kebun teh kemuning. foto by: Hafiez Agam

kebun teh "Kemuning"

kebun teh “Kemuning”. foto by: Saeful Agus

Perjalanan masih berlanjut. Setelah kebun teh “Kemuning” masih ada Candi Sukuh dan air terjun Grojogan Jumog. Demi mendengar “ael esjyuun” melonjak-lonjak bahagialah Aisyah.

candi Sukuh

candi Sukuh. Foto by: Agus Shoim

pemandangan dari puncak candi Sukuh. Foto by: Amriyahya Photographi

pemandangan dari puncak candi Sukuh. Foto by: Hardi anto no

Dan disinilah tempat favorit Aisyah grojogan Jumog. Dengan semangat berapi-api aisyah kugendong menuju puncak. Ada sedikit kekhawatiran apakah Aisyah tidak merasa takut di atas sana, melihat air yang mengalir deras dengan suara yang berderu-deru. Ternyata tidak, Aisyah baik-baik saja (fhhyuuhhh… emak-emak banyak takutnya), alhamdulillah. Setelah melihat air terjun, langsung berenang. Walau cuaca dingin, tetap lanjut. Sampai tubuhnya bergetar kedinginan masih tidak mau keluar dari kolam berenang. Akhirnya ada sedikit kecelakaan yang menimpa kaka Yasmin, baru Aisyah bisa diangkat keluar kolam (tentu sambil menangis pula…hadeeuuuhh).

Aisyah di grojogan Jumog.

Aisyah di grojogan Jumog. (Tentu terlihat bahwa saya bukan toekangpoto)

GROJOGAN JUMOG 3

Indahnya grojogan Jumog. Foto by: Imam Saefudin.

Akhirnyaa… perjalanan selesai untuk hari ini. Kami singgah di rumah dinas camat Ngargoyoso dan beristirahat di sana. Malam hari, ketika para peserta yang lain menjalani pelatihan. Aisyah pun kembali dengan rutinitasnya, yah… benar, berlari dan berteriak. Sambil menjahili amah-amah terutama panitia yang sedang menyiapkan makan malam. Dengan asyiknya Aisyah duduk diantara baskom dan nampan makanan, kemudian bertingkah bagai ibu-ibu penjualan penjual makanan. Ahh.. Aisyah, kamu itu. Hari pun berganti. Pagi ini, seperti sebelumnya kami harus bersiap-siap dari jam 3 pagi sebelum berangkat menuju puncak gunung Lawu. Aisyah?, seperti biasa “bocan/ bobo cantik” di pangkuan. Sepanjang perjalanan Aisyah masih tertidur nyenyak. Sampai diperjalanan akhirnya Aisyah terbangun dan kembali berbahagia dengan tempat baru dan berbeda yang dihadapannya. Walaupun masih ngantuk, Aisyah masih antusias untuk melihat pemandangan yang ada dan bersemangat mengikuti uminya yang ingin coba-coba turun ke areal perkebunan. candi cetho

Aisyah menjelajah. Foto by:??

Aisyah menjelajah. Foto by:??

Selesai foto-foto. Kami kembali ke kantor kecamatan Ngargoyoso dan langsung disambut bubur Lemu, Subhanallah lezat nian, Aisyah pun makan dengan lahap, walau sambil berlari-lari (seperti biasa). Saatnya berkemas, ketika yang lain menjalani seminar Aisyah mandi dan siap-siap pulang. Tetiba terjadi kecelakaan, salah satu panitia terjatuh dan shock. Akhirnya Aisyah harus dialihkan ke abi dan amah-amahnya, sedang umi membantu Panitia yang terjatuh tadi. Setelah kondisi membaik, tibalah saat perpisahan dengan beberapa peserta dengan tujuan pulang berbeda. Sedangkan kami melanjutkan perjalanan menuju Wonogiri, menghadiri resepsi pernikahan peserta toekangpoto. “Barakallahulakuma wa baroka ‘alaikumaa wa jama’a bainakumaa fiil khair”.  Lagi, diperjalanan Allah menciptakan alam dengan pemandangan sangat indah. Subhanallah. Kami singgah sebentar di Resepsi dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.

nikahan toekangpoto di wonogiri

Nikahan toekangpoto di wonogiri. Foto by: Silva Lery

Jogjakarta, kami sampai ketika matahari sudah condong ke barat. Singgah di restoran, sambil makan kami bercakap-cakap melepas lelah. Lalu Aisyah? berpetualang tentu saja. Tanpa lelah Aisyah masih bolak-balik mencari hal yang menarik. Sampai akhirnya taksi kami pun tiba. Sekali lagi perpisahan kami lalui. Taksi membawa kami ke penginapan di depan bandara Adhi Sucipto. Belum, belum istirahat, masih jalan-jalan dulu menikmati malam di Yogyakarta. Akhirnya menjelang tengah malam Aisyah menyerah dan terlelap. Keesokan paginya, kami harus menngejar check in jam 6 pagi. Kami tergesa-gesa menuju bandara. Alhamdulillah masih terkejar.

aish diri dipesawat aish gaya didepan pesawat

Terlalu ngantuk, Aisyah sempat tertidur dipesawat sejenak sesudah take-off. Ketika pesawat mulai bergerak untuk turun, Aisyah bangun. Sempat merasa takut, tapi akhirnya terbiasa dan malah bermain-main. Yang pasti, susah sekali menyuruhnya diam untuk dipasangkan belt, malah bolak balik dimainin, hehehe…

Aisyah dan umi di bandara. Foto by: Hafiez Agam.

Aisyah dan umi di bandara. Foto by: Hafiez Agam.

Akhirnya perjalanan pun berakhir, alhamdulillah kami selamat sampai rumah. Dan tanpa istirahat, Aisyah langsung ikut bermain bersama teman-temannya di depan rumah. “Ya ampun Aisyah…..”

By: Aisyah Ali

Advertisements

THE NAKED TREVELER 3 (RESENSI)

Image

Judul buku                   :   The Naked Traveler 3

Pengarang                   :   Trinity

Penerbit                       :   B-First

Tahun Terbit                 :   2011

Tempat Terbit               :   Yogyakarta

Tebal Halaman             :   324 halaman

Welcome back, Trinity!. Trinity balik lagi dengan segudang cerita menarik tentang petualangannya menjelajahi dunia. Buat yang belom kenal, Trinity adalah seorang penulis lawas (kalo nggak mau dibilang tua) dibidang traveling. Bukunya The Naked Traveler dan The Naked Traveler 2 laris asyik (bukan makanan, jadi nggak bisa dibilang laris manis) dipasaran. Selain sebagai penulis buku, Trinity juga menjabat sebagai Editor in Chief sebuah majalah travel ternama “Venture”, pengisi program traveling di radio Indika FM, blogger, dan kolumnis di Yahoo! Travel. Bisa dibilang, beliau adalah petualang sejati. Beliau bukan tipikal pejalan yang hanya mengikuti panduan-panduan umum kemana dan bagaimana menuju tempat tujuan, tapi beliau membuat seri petualangannya sendiri. Bahkan terkadang tidak mengunjungi tempat-tempat wisata, tapi hanya berjalan dan mengenal banyak orang di wilayah tersebut. Di buku ini Trinity menuangkan segala macam pengalamannya, baik ketika mengunjungi suatu tempat maupun bagaimana keadaan masyarakat di daerah tersebut.

The Naked Traveler, berisi potongan-potongan cerita sang penulis diberbagai negara yang dikunjunginya. Banyak cerita-cerita baru (dan sangat lucu) yang akan membuat kita berkata “hmm…ini baru bener-bener petualangan”. Secara, penulis emang suka banget berpetualang ke tempat-tempat yang nggak biasa. Bahkan, buku ini dibuka dengan pengalaman penulis dalam “Tur Hantu” (hah! apan tuh?!!) dan tempat berlangsungnya “Tur Hantu” ini di Bandung. Kita semua kan tahu, yang namanya ke Bandung, kalo nggak belanja ya wisata kuliner. Tapi ternyata ada loh hal-hal yang nggak biasa yang bisa kita jalanin, contohnya ya “Tur Hantu” ini. Dan masih segambreng lagi cerita menarik di buku ini.

Si Ninik (secara, hitung-hitung umur kayanya dah tua, hehe..) yang satu ini, memiliki gaya khas penulisan yang ringan, jadi situasi dan kondisi yang dialaminya walaupun terkesan biasa bisa membuat kita ngakak nggak karuan. Positifnya buku ini, penulis lebih banyak mengisahkan tentang kebiasaan, adat dan budaya yang unik dari penduduk tempat yang dikunjunginya, hal yang tidak biasa dari sebuah buku traveling. Selain itu, banyak banget tips-tips penting tapi singkat dan padat buat para traveles baru. Yang patut diancungin jempol, nggak semua tulisannya berisi ketawa doang, ada juga bagian yang memberikan pandangan baru (kritik dan saran), baik dari segi personal bagi para traveler maupun untuk perbaikan pariwisata negara Indonesia ke depan. Negatifnya, buku ini berantakan banget urutannya. Jadi jangan heran kalo habis nyeritain kisah petualangan di Cina, eh…nggak taunya langsung kabur ke India. Habis ujlek-ujlekan naik Onta di Sinai, menclok ke Laut Mati, dan berakhir di Onsen (pemandian air panas) di Jepang. Emang sih, tiap cerita dikelompokin berdasarkan satu tema, dan justru itu kurangnya, pengelompokan tema ini bisa membuat satu cerita diulang kembali. Yaahh…gitu deh, segala sesuatu kan memang ada segi positif dan negatifnya, tapi yang pasti tetep aja nih buku wajib banget buat dibaca, walaupun belum mungkin untuk mengikuti jejak petualangannya (kan mahal biayanya) setidaknya kita bisa menghayalkan tempat tersebut sambil ngetawain si penulisnya. Asyik kan?