''my journey''

Archive for the ‘CERPEN’ Category

AYAH

Kaku. Badanku bagaikan tertindih beban berat. Nyeri. Sekujur tubuhku bagai dikuliti dan dipilin satu persatu. ALLAH..ALLAH…ALLAH….Kosong….

“Gimana bu?” aku mendengar suara kang Ardi memanggil ibu pelan.
Aku dengar, aku dengar…rasanya aku ingin teriak, tapi tubuhku kaku, berat sekali.
“hhh….masih belum ada perubahan, Di.”
Itu suara yang amat aku rindu. Robby, aku rindu suara itu. Ibu, aku rindu suaramu. Ingin ku teriakkan kata-kata itu, tapi aku bagai terpasung. Tubuh ini tidak dapat aku gerakan. Robby…letih sekali. Kosong.

@@@@@

“Mau apa dia kemari?” bentakku sambil berjalan cepat menuju kamar. Melewati tiga pasang mata yang terbelalak melihat perlakuaanku. Mata abu-abu itu menatapku nanar, tergambar jelas hatinya bingung antara kaget, marah dan terluka.
“Fa, kok kamu begitu ngomongnya!” kang Ardi mengikutiku dengan langkah berburu.
“loh, emang kenapa. Syifa cuma nanya, ngapain dia kemari?” jawabku ketus. “minta bantuan. Atau mau minta maaf. Tapi, kayanya nggak mungkin.” Kata-kataku merunut pedas.
“Syifa!” bentak kang Ardi.
“Apa!”
“Nggak pantas kamu berkata begitu!”
“ohya, lalu kata-kata apa yang pantas untuk laki-laki macam dia!”
“Syifa, akang nggak pernah ngajarin kamu bersikap kurang ajar!” wajah kang Ardi merah menahan marah dan tangannya mengepal kuat.
“Memang bukan. Bukan kang Ardi yang mengajari Syifa, tapi laki-laki itu yang membuat Syifa keras menghadapi kenyataan…..”
PLAK!!!
Kuraba pipiku, pedih. Ohh…seperti ini rasanya ditampar. Sakit, rasanya ingin menangis. Aku benci laki-laki itu. Kang Ardi yang selalu lembut padaku pun akhirnya menamparku. Dan semua ini gara-gara laki-laki itu. Ku tatap kang Ardi. Guratan menyesal tergambar di wajahnya, tapi rahangnya tetap kukuh menghadapi aku yang sedang keras kepala.
“Syifa, perempuan berjilbab seperti kamu tak pantas bersikap seperti itu.” Kang Ardi mengingatkanku dengan keras.
“Oh begitu. Karena berjilbab jadi aku harus punya hati putih kaya salju, begitu! Aku yang sakit kang, dan dia yang salah. Ketika aku marah karena aku tersakiti, aku dilarang. Akang kira aku ini apa? dia kira dia itu siapa? Seenaknya sendiri, nggak peduli gimana perasaan orang lain. Kenapa justru Syifa yang dihakimi disini.” Raungku, benar-benar murka.
Ku tinggalkan kang Ardi dan berlari ke ruang tamu. “PUAS!!!  Sakit seperti apa lagi yang ingin kamu kasih sekarang. Untuk apa kamu kemari. Bertahun-tahun menghilang, lebih baik sekalian aja lenyap ditelan bumi untuk apa balik lagi.” makiku kepada laki-laki bermata abu-abu itu sambil menuding hidungnya. “Satu hal yang sangat ingin aku lakukan adalah menghapus semua jejakmu dalam hidupku, tahu!” ku tantang matanya yang terluka. Dia tertunduk. Tapi ketika mataku menangkap mata ibu, hatiku bergetar. Mata ibu basah, kekecewaan dan kesedihannya terpancar jelas.

Ibuuuu……

Aku tak tahan. Aku marah, benar-benar marah, aku sedih sangat sedih, aku kecewa, sangat, segala rasa bercampur aduk sampai aku tak tahu lagi. sampai rasanya aku kebas, tak sanggup membendung rasa yang bergulung dan membadai dalam hatiku. Hatiku meledak. “HWUAAAA…..” tangisku.
Tanpa sadar aku berlari keluar rumah. Aku benar-benar tak merasakan tubuhku. Sampai aku merasa tanah yang ku pijak menghilang dan sesuatu menghantam kepalaku. Nyeri, diantara rasa sakit aku masih mendengar suara berat memanggil namaku. Ayaaah….lidahku tak sempat mengucapkan kata itu.
@@@@

“Luka-lukanya pulih dengan cepat, secara fisik bahkan sudah dinyatakan sehat.” Hhh…aku mendengar dokter itu menghela nafasnya pelan. “Tapi, secara psikis, ada gangguan yang menghambatnya untuk sadar. Mungkin syok atau trauma yang sangat mengguncang, sehingga otaknya menolak untuk menerima. Kami masih terus berupaya untuk memberikan rangsangan agar nona Asyifa segera sadar. Dan kami mohon doa dan bantuan dari orang-orang terdekat agar nona Asyifa lekas sadar kembali.”
Aku sadar, bahkan aku bisa mendengar suara-suara disekitarku dan mengenalinya, aku dapat merasakan sentuhan bahkan tahu ketika ada selang dan cairan yang dimasukkan ke perutku dan sakitnya ketika mereka menyuntikku. Tapi aku benar-benar tak dapat mengerakkan tubuhku. Rasanya seperti diikatkan pada besi besar, sekuat tenaga ku kerahkan untuk menggerakkan tubuhku hasilnya nihil. Dan selalu saja kilasan ingatanku berkelebat terus menerus. Dan kenangan itu, adalah kenangan-kenangan yang sangat mempengaruhi emosiku. Tapi sekali lagi, emosiku itu, teredam karena tubuhku tidak meresponnya dan semakin menyesakkan. ALLAH…ada apa ini.

@@@@

“Bu, mereka bilang ayah pergi dengan perempuan lain bu.” Aku menangis mengadu kepada ibu. saat itu aku baru kelas lima SD dan banyak ibu-ibu iseng meledekku tentang ayahku yang pergi meninggalkan aku. Entah, apa yang membuat ibu-ibu itu tega menyakiti hatiku saat itu dan justru tertawa melihatku menangis karena ledekan mereka.
Kenangan itu melesat di ingatanku. Menyesakkan dada. Terlebih lagi ketika ingatanku memutar raut wajah ibu yang pias, menahan tangis dan luka. Aaahhh, wajah itu terlalu lemah untuk disakiti. Bahkan kelemahan ibu dan sikap nrimonya membuat ibu tak pernah mengeluh dihadapanku dan kang Ardi mengenai laki-laki itu. Laki-laki itu aku semakin membencinya.

“Kang, akang kenapa? Kok berdarah.” Tanyaku ketika kang Ardi pulang sekolah dan bajunya berlumur darah.
“nggak, akang nggak papa. Syifa dah makan?” akang malah tanya balik sambil membuka sepatu.
“Akang pasti berantem lagi ya. Teman-teman akang pasti ngeledekin akang lagi ya?” malah aku yang teriak sambil mulai menangis.
“ya.” kang Ardi menundukkan kepala sambil menghapus air matanya.
Kupeluk kang Ardi sambil menangis. Sampai kapan kami harus menanggung rasa malu dan penderitaan ini. Aku sangat sayang sama kang Ardi. Kang Ardi sangat lembut seperti ibu. saat itu ibu harus berjualan dari pagi sampai petang, demi memenuhi kebutuhan hidup. Jadi kang Ardi yang mengurusku dan menjaga rumah, kakangku yang terpaut lima tahun dariku, menjadi dewasa karena tanggung jawab yang harus dipikulnya diusia sangat muda.
“Menurut hasil penelitian ini, sebagian besar dari pecandu memang berasal dari keluarga broken home.”
Ku tatap tajam guru sosiologiku. Ketika ku edarkan pandangan, beberapa anak menatapku sambil bisik-bisik. Rasanya aku ingin sekali menggebrak meja dan kabur dari kelas itu. Siapa sih peneliti riset pecandu narkoba itu, sembarangan aja membuat kesimpulan. Marahku sampai ke ubun-ubun. Semua gara-gara laki-laki itu.

@@@@

Telingaku menangkap lantunan yang sangat ku kenal. Ibu sedang bersholawat di telingaku. Robby, beritahu ibuku aku mendengarnya. Ku rasakan kulit ibu meraba lembut tanganku. ALLAH, aku rindu menatap wajahnya. Kosong.
“Bagaimana Di?” ibu.
“Susah bu, aaaghhh….ayah sama anak sama keras kepalanya.” Kang Ardi berteriak, nadanya suaranya terdengar marah.
Ada apa? kenapa kang Ardi marah?, kang Ardi sangat jarang marah….
“Ardi tenang, tenangkan dirimu, kasihan Syifa…” ibu lagi.
“Ayah, ayah nggak mau menemui Asyifa. Ayah marah dengan peristiwa itu. Ayah tidak mau lagi bertemu Asyifa.” Suara kang Ardi parau. “Padahal Ardi sudah menceritakan ke ayah. Waktu Syifa kabur dari rumah saat itu, Asyifa terjatuh di lubang pembuatan jalan, kepala Asyifa terantuk dan masih koma sampai sekarang, tapi dia tak bergeming. Asyifa benar, dia memang egois, sangat egois.” Kata-kata kang Ardi meluap-luap.
“Beri ayahmu waktu untuk berpikir.”
Ayah….
Sebuah tangan hangat menyentuh dahiku. Tangan besar dan kasar itu membelai-belai rambutku, penuh sayang. Aku ingat rasa ini. aku ingat kehangatan ini. aku ingat betapa aku merindukan sentuhan ini. betapa sering aku memimpikan dibelai seperti ini lagi…

@@@@@

“Begitu dong, itu baru anak ayah.” Ayah tersenyum indah dimataku, saat aku bisa menjalankan sepeda roda dua pertamaku. padahal kakiku sudah berdarah-darah karena terbeset aspal atau jari-jari sepeda. Tapi kalau aku ingin sesuatu maka hal itu harus ku dapatkan apapun resikonya. Dan lihat aku bisa, dan ayah sangat bangga dengan kegigihanku.

@@@@

Saat itu rasanya indah sekali mendengar pujian ayah itu. Karena ayah bukan hanya sayang tapi juga bangga padaku. Kenangan ini, kenangan yang paling menyakitkan untukku. Dan dadaku mulai sesak.
@@@@
“Ibu, kok ayah belom pulang. Kapan ayah pulang. Syifa mau ayah, Syifa mau ayah, Syifa mau ayah….” Aku menangis sambil berontak dari pelukan ibuku. Ibu juga menangis, menghadapi keras kepala putrinya.
Aku berlari ke pintu dan berdiri di teras sambil terus menangis. Saat itu tubuhku sedang demam, aku terbangun tengah malam dan mencari ayah yang hampir seminggu tidak pulang. Tapi aku berkeras menunggu ayah pulang.
“Syifa, ayo masuk, di luar dingin nanti Syifa malah tambah sakit.” ibu masih terus membujuk. Sedang kang Ardi menangis didalam karena kasihan padaku.
Aku menunggu di luar sampai hari hampir menjelang pagi. Detik-detik, ku tunggu sosok besar yang akan membuka gerbang pintu rumahku. Ku tahan kepalaku yang pusing dan rasa tubuhku yang tidak karuan, karena aku yakin ayah akan pulang malam ini. Aku sudah kangen sekali, aku rindu bau khas ayah yang sering menggendong dan memelukku setiap ia pulang kerumah. Aku yakin ayah akan pulang.
Tapi saat aku mendengar suara adzan Shubuh berkumandang, ayah belum juga datang, sosok itu masih belum tampak dari gerbang rumah, bau khasnya masih belum tercium hidungku. Saat itu aku sadar, ayah tidak pulang dan tidak akan pulang. Aku kecewa, aku mulai terisak lagi dan akhirnya aku menangis meraung-raung sambil berteriak “aku benci ayah. Aku benci ayah”. Setelah itu aku pingsan dan sakit hampir seminggu.

@@@@

Kenangan terakhirku sangat tak tertahankan oleh hatiku, sangat berat dan menindih. Aku menangis, tubuhku merespon, aku menangis. Ternyata belaian ayah, yang membangkitkan kenangan terburukku membuat tubuhku dapat merespon perintah otakku.
“Ayah minta maaf nak. Ayah jahat. Ayah egois. Ayah membuat kamu sangat menderita. Ayah menyesal. Sangat menyesal.” Kata-kata ayah terdengar sangat dekat ditelingaku. Aku merasakan tetesan air menyentuh pipiku. Ayah menangis.
ALLAH….aku berbohong. Ya, aku marah, aku sangat marah. Tapi marahku karena aku sangat sayang padanya dan aku benar-benar merindukannya. ALLAH aku membencinya agar aku tidak mengharapkan ayah pulang lagi, karena aku tahu aku pasti akan kecewa lagi dan itu sangat menyakitkan. Tapi aku tahu, hatiku selalu ingin dia pulang, aku selalu rindu wajahnya, rindu suaranya, rindu bau khasnya. ALLAH….tapi saat ia kembali aku malah mengusirnya, kemarahanku dan kesombonganku malah melukai diriku sendiri sekarang. ALLAH…ampuni aku…aku mohon…aku ingin sekali memanggilnya untuk terakhir kali.
Ku kerahkan segenap usahaku untuk menggerakkan lidahku. Sulit, sulit sekali. Tapi aku pasti bisa. ALLAH….ku mohon…ku mohon…. Berat, terasa sangat kaku, tapi untuk kali terakhir ini saja. Ayo, ku buka mulutku perlahan, lebih besar. Tapi ternyata suara itu tak keluar.
“Ardi pangil dokter. Asyifa mengeluarkan air mata dan mulutnya bergerak-gerak. Cepat !” perintah ibuku.
Nafasku mulai tersengal-sengal, seluruh tenagaku rasanya habis.
“Syifa tak apa nak, kalau kamu masih marah sama ayah, ayah akan pergi.” Belaian ayah terhenti, dan tubuhnya bergerak menjauh, hangat yang tadi kurasakan mulai mencair.
Tidak, jangan, jangan pergi lagi ayah. Aku nggak mau ayah pergi lagi. jangan pergi.
Ku coba sekali lagi menggerakkan lidahku. ALLAH bantu….aku mohon….Ku tarik nafas
“A…Ayaaah….jangan pergi”…..
Tubuhku terasa ringan

Aisyah Ali

Jakarta, 1 November 2010

Advertisements