''my journey''

BUKAN FOODPHOTOGRAPHY

3 piscok ini seharga 5000 rupiah. Masih tersisa 12 lagi, seharga 20.000 rupiah. Penjualnya, anak perempuan seumur Aisyah ku, kurang lebih 6 tahun. Berkeliling dengan sepedanya kehujanan sampai malam. Terkadang, pukul 21.00 masih terdengar lengkingannya “piscok… piscok..”. Piscok ini tak tertelan tenggorokanku…. Malah air mata yang meleleh. Aisyah, sedang apa kau di rumah nak?

Foto Aisyah Ruma Achmad.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

Komentari

Zahrah Muksin Aisyah di rumah… Ummi nya kerja ya?

Faizah Zarkasih
Faizah Zarkasih Ya allah, orang tua nya kemana

Aisyah Ruma Achmad
Aisyah Ruma Achmad sempet nanya2 tadi, ibunya di rumah. adiknya 2 masih kecil2…. ngak berani melabeli apa2… takut dzon… ngak tau benar gimana kondisi keluarga ini sebenarnya

Aisyah Ruma Achmad
Tulis balasan…
 
Aisyah Ruma Achmad
Aisyah Ruma Achmad
Tulis komentar…
Senyum Aisyah "Aku bisa sendiliii...". Foto by: Inna Putri

Senyum Aisyah “Aku bisa sendiliii…”. Foto by: Inna Putri

“Aish… enndiliii” kata-kata yang selalu diucapkan Aisyah. Rasa penasaran dan percaya dirinya selalu membuat takjub dan sedikit takut, mampukah ia?.

Masih ragu, bisakah aisyah kubawa berpetualang beberapa hari tanpa kenyaman yang selalu melingkupinya. Benar saja, perjalanan awal saja sudah melelahkan. Semalaman di kereta, pasti bukan hal yang nyaman untuknya. Tapi lihatlah, tetap saja lincahnya, isengnya, cerianya tak surut. Bahkan ketika penumpang lain sudah menyerah dan tertidur, aisyah masih bolak balik dilorong. Dengan keterpaksaan, akhirnya aisyah baru tertidur lewat jam 1 malam, subhanallah.

aisyah dan abi tidur di kereta menuju st. Solo Balapan, Solo

Aisyah dan abi tidur di kereta menuju st. Solo Balapan, Solo.

Sampai tujuan, tak ada satu pun guratan lelah di wajahnya. “Sywah..syuwah..” teriakan bahagia melihat hamparan sawah hijau, pencuci mata pertamanya, setelah “terpaksa” tidur semalam. Masya Allah, kuat sekali anak ini.

The truly journey begun. Sampai di stasiun Solo Balapan cuaca mendung, tapi si “matahari” satu ini tetap bersemangat melihat kereta hilir-mudik, bahkan cerahnya makin terpancar demi pertemuannya dengan “kaka Cemin”. Aisyah selalu jadi penggemar anak-anak yang lebih tua darinya. Maka saat itulah, Aisyah mengangkat “kaka cemin” menjadi kawan seperjalanannya.

kawan seperjalanan (aisyah & kk cemin) foto by: Amriyahya Photographi)

kawan seperjalanan (Aisyah & kk Cemin). Foto by: Amriyahya Photographi)

Perjalanan berlanjut dengan menggunakan bus menuju restoran Pring Sewu, Solo, sebagai tempat berkumpul dan pembukaan acara. Disinilah Aisyah menemukan tempat terbaiknya sebagai “penyanyi dadakan”. Bakat terpendam “sebenernya ampun-ampunan dipendem ama uminya” sebagai penyanyi kelas apotek pun meluap-luap tak terbendung, tentu saja tanpa melupakan rutinitas berlari-lari sambil berteriak-teriak.

Pak HIDAYAT NUR WAHID hadir sebagai pembuka acara #mila4dtoekangpoto. poto by: dudi iskandar

Pak Hidayat Nur Wahid hadir sebagai pembuka acara #mila4dtoekangpoto. Foto by: Dudi Iskandar

Perjalanan pun masih berlanjut menuju padepokan keris “Brojobuwono”, tempat yang sedikit menyeramkan sesungguhnya, apalagi untuk anak seusia aisyah. Dan tarraaa…yang dikhawatirkan malah berlari-lari dan sempat ikut-ikutan menari bersama para kakak-kakak yang sedang belajar menari. Allahu Rabbana.. Subhanallah.

penari keris

Penari keris. Foto by: Saeful Agus

Toekangpoto di padepokan keris "Brojo Buwono"

Toekangpoto di padepokan keris “Brojobuwono”. Foto by: Hardi anto no

Hanya sedikit waktu yang dimiliki Aisyah untuk tidur siang dan beristirahat, namun tenaganya seperti full charger saja, tiada habisnya. Malam saat persinggahan terakhir untuk hari ini. Bus berhenti di depan masjid Agung Karang Anyar. Terpikir untuk segera beristirahat karena di luar pun hujan sangat deras. Apa dikata, si “bocah cilik” masih sibuk dengan permainannya sendiri. Bahkan ketika semua sudah tertidur, aksi jahilnya makin menjadi. Amah-amah yang sudah tertidur ditepok-tepok sampai terbangun. Hehehe… maaf ya amah semua…

aisyah bernyanyi @Aula mesjid Agung Karang Anyar

aisyah bernyanyi @Aula mesjid Agung Karang Anyar. foto by: Joko Ardi

amah semua makasih ya sudah nemenin aisyah dan maaf aisyah suka iseng :)

amah semua makasih ya sudah nemenin aisyah dan maaf aisyah suka iseng :). Foto by: Hardi anto no

Hari kedua pun dimulai, kami memulai hari jauh sebelum matahari memancar. Jam 3 pagi, sudah mulai mengantri kamar mandi. Aisyah??!!… tentu saja masih bobo cantik. Shalat Subuh pun tertunaikan dan demi mengejar “matahari terbit”, maka kami bergerak menuju waduk Lalung menggunakan bus. Masih tidur, Aisyah pun harus dibopong dan dipindahkan tidurnya, dari kenyamanan lantai mesjid Agung ke empuknya kursi bus.

waduk lalung2

Sunrise di waduk Lalung. Foto by: Wicak Yuuhuu.

Sampai di tujuan, para toekangpoto mulai berseliweran mencari tempat yang paling pas untuk menghasilkan karya foto terbaik. Sedang saya hanya menikmati alam sambil membopong si “ucrit” yang masih terlelap. Bosan menunggu, ide untuk petualangan sendiri pun muncul. Saya memutuskan berjalan-jalan sendiri menuju perkampungan untuk menyapa para warga, mencari suasana lain dari perjalanan ini. Di Tengah perjalanan Aisyah terbangun dan langsung tertarik dengan suasana sekitarnya. Rumah- rumah kayu berhalaman luas, suasana kampung yang damai, dan perternakan sapi!!! “moooo… mooo…” bahagia Aisyah langsung menunjuk-nunjuk sapi sambil ikut melenguh “mooo…moooo.. “. Antusias tapi takut-takut Aisyah maju mundur untuk mendekati sapi-sapi yang berukuran “wah” tersebut. Puas memandangi sapi-sapi, kami mencari warung untuk membeli sarapan, kemudian kembali ke bus. Para Tepe’rs ternyata telah selesai memburu “primadona”nya dan sedang sarapan pagi bersama. Kami pun ikut nimbrung menyantap makanan yang disediakan panitia.

Sarapan di waduk Lalung.

Sarapan di waduk Lalung.

Perjalanan pun berlanjut menuju kebun teh “Kemuning”. Diperjalanan, ternyata ooh ternyata, Aisyah ngantuk berat sampai-sampai tertidur dipelukan pak Eddy. Sampai di tujuan, hamparan tanaman teh bagai karpet hijau tebal terpampang, lnatunan “Subhanallah” tak kuasa dihentikan. Akhirnya sang tuan putri pun terbangun, sekali lagi “syuwah.. syuwah” yang diucapkan, salah memang (kebun teh kok disebut sawah, hehehe..) tapi begitulah cara Aisyah menunjukkan ketakjubannya akan indahnya ciptaan Allah SWT. Seperti biasa, walaupun baru bangun tidur, rasa penasarannya tak terbendung. Mulailah Aisyah minta untuk menjelajah diantara tanaman teh yang rapat. Tidak hanya itu, Aisyah pun minta dipanggul di bahu (beraaatt… hiks!!), agar leluasa menikmati pemandangan sekitar. Ternyata ada agenda kejutan dari panitia untuk seluruh peserta, “Potong Tumpeng” milad ke 4 toekang foto. Wh..wah.. seru.. dan lebih seru lagi makan bersama dari satu nampan, hmmm… nikmat.

Acara potong tumpeng milad ke 4 Toekangpoto. Foto by: Dudi Iskandar.

Acara potong tumpeng milad ke 4 Toekangpoto. Foto by: Dudi Iskandar.

Makan nasi tumpeng bersama. Foto by: Dudi Iskandar.

Makan nasi tumpeng bersama. Foto by: Dudi Iskandar.

Aisyah dan umi di kebun teh kemuning. foto by: hafiez agam

Aisyah dan umi di kebun teh kemuning. foto by: Hafiez Agam

kebun teh "Kemuning"

kebun teh “Kemuning”. foto by: Saeful Agus

Perjalanan masih berlanjut. Setelah kebun teh “Kemuning” masih ada Candi Sukuh dan air terjun Grojogan Jumog. Demi mendengar “ael esjyuun” melonjak-lonjak bahagialah Aisyah.

candi Sukuh

candi Sukuh. Foto by: Agus Shoim

pemandangan dari puncak candi Sukuh. Foto by: Amriyahya Photographi

pemandangan dari puncak candi Sukuh. Foto by: Hardi anto no

Dan disinilah tempat favorit Aisyah grojogan Jumog. Dengan semangat berapi-api aisyah kugendong menuju puncak. Ada sedikit kekhawatiran apakah Aisyah tidak merasa takut di atas sana, melihat air yang mengalir deras dengan suara yang berderu-deru. Ternyata tidak, Aisyah baik-baik saja (fhhyuuhhh… emak-emak banyak takutnya), alhamdulillah. Setelah melihat air terjun, langsung berenang. Walau cuaca dingin, tetap lanjut. Sampai tubuhnya bergetar kedinginan masih tidak mau keluar dari kolam berenang. Akhirnya ada sedikit kecelakaan yang menimpa kaka Yasmin, baru Aisyah bisa diangkat keluar kolam (tentu sambil menangis pula…hadeeuuuhh).

Aisyah di grojogan Jumog.

Aisyah di grojogan Jumog. (Tentu terlihat bahwa saya bukan toekangpoto)

GROJOGAN JUMOG 3

Indahnya grojogan Jumog. Foto by: Imam Saefudin.

Akhirnyaa… perjalanan selesai untuk hari ini. Kami singgah di rumah dinas camat Ngargoyoso dan beristirahat di sana. Malam hari, ketika para peserta yang lain menjalani pelatihan. Aisyah pun kembali dengan rutinitasnya, yah… benar, berlari dan berteriak. Sambil menjahili amah-amah terutama panitia yang sedang menyiapkan makan malam. Dengan asyiknya Aisyah duduk diantara baskom dan nampan makanan, kemudian bertingkah bagai ibu-ibu penjualan penjual makanan. Ahh.. Aisyah, kamu itu. Hari pun berganti. Pagi ini, seperti sebelumnya kami harus bersiap-siap dari jam 3 pagi sebelum berangkat menuju puncak gunung Lawu. Aisyah?, seperti biasa “bocan/ bobo cantik” di pangkuan. Sepanjang perjalanan Aisyah masih tertidur nyenyak. Sampai diperjalanan akhirnya Aisyah terbangun dan kembali berbahagia dengan tempat baru dan berbeda yang dihadapannya. Walaupun masih ngantuk, Aisyah masih antusias untuk melihat pemandangan yang ada dan bersemangat mengikuti uminya yang ingin coba-coba turun ke areal perkebunan. candi cetho

Aisyah menjelajah. Foto by:??

Aisyah menjelajah. Foto by:??

Selesai foto-foto. Kami kembali ke kantor kecamatan Ngargoyoso dan langsung disambut bubur Lemu, Subhanallah lezat nian, Aisyah pun makan dengan lahap, walau sambil berlari-lari (seperti biasa). Saatnya berkemas, ketika yang lain menjalani seminar Aisyah mandi dan siap-siap pulang. Tetiba terjadi kecelakaan, salah satu panitia terjatuh dan shock. Akhirnya Aisyah harus dialihkan ke abi dan amah-amahnya, sedang umi membantu Panitia yang terjatuh tadi. Setelah kondisi membaik, tibalah saat perpisahan dengan beberapa peserta dengan tujuan pulang berbeda. Sedangkan kami melanjutkan perjalanan menuju Wonogiri, menghadiri resepsi pernikahan peserta toekangpoto. “Barakallahulakuma wa baroka ‘alaikumaa wa jama’a bainakumaa fiil khair”.  Lagi, diperjalanan Allah menciptakan alam dengan pemandangan sangat indah. Subhanallah. Kami singgah sebentar di Resepsi dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.

nikahan toekangpoto di wonogiri

Nikahan toekangpoto di wonogiri. Foto by: Silva Lery

Jogjakarta, kami sampai ketika matahari sudah condong ke barat. Singgah di restoran, sambil makan kami bercakap-cakap melepas lelah. Lalu Aisyah? berpetualang tentu saja. Tanpa lelah Aisyah masih bolak-balik mencari hal yang menarik. Sampai akhirnya taksi kami pun tiba. Sekali lagi perpisahan kami lalui. Taksi membawa kami ke penginapan di depan bandara Adhi Sucipto. Belum, belum istirahat, masih jalan-jalan dulu menikmati malam di Yogyakarta. Akhirnya menjelang tengah malam Aisyah menyerah dan terlelap. Keesokan paginya, kami harus menngejar check in jam 6 pagi. Kami tergesa-gesa menuju bandara. Alhamdulillah masih terkejar.

aish diri dipesawat aish gaya didepan pesawat

Terlalu ngantuk, Aisyah sempat tertidur dipesawat sejenak sesudah take-off. Ketika pesawat mulai bergerak untuk turun, Aisyah bangun. Sempat merasa takut, tapi akhirnya terbiasa dan malah bermain-main. Yang pasti, susah sekali menyuruhnya diam untuk dipasangkan belt, malah bolak balik dimainin, hehehe…

Aisyah dan umi di bandara. Foto by: Hafiez Agam.

Aisyah dan umi di bandara. Foto by: Hafiez Agam.

Akhirnya perjalanan pun berakhir, alhamdulillah kami selamat sampai rumah. Dan tanpa istirahat, Aisyah langsung ikut bermain bersama teman-temannya di depan rumah. “Ya ampun Aisyah…..”

By: Aisyah Ali

“Cari inspirasi…

lakukan eksplorasi…

perdalam rasa…

dan bingkai dalam sentuhan…

maka ia menjadi maha karya”

Saya tidak pandai memfoto, tentu saja, karena saya bukan #toekangpoto. Maka izinkan saya untuk berkarya dengan cara lain, cara yang saya tahu, melalui tulisan.

Tiga hari lebih bersama para #toekangpoto, memberi arti sendiri. Perjalanan yang penuh canda tawa, tanpa melalaikan kewajiban. Lelah, tapi bahagia mengusirnya pergi dan merubahnya menjadi senyum. Setiap titik persinggahan memberi hikmah baru, tentang keindahan yang sering terlewatkan mata, tentang keagungan penciptaan, tentang Sang Kuasa Yang Maha Indah di atas segalanya. Dan dibalik semua itu, rasa persaudaraan yang terbangun dari sebuah perjalanan.

Berjalan diantara kalian para #toekangpoto, membuat saya iri. Iri dengan semangat kalian mencari dan bereksplorasi demi menghasilkan karya terbaik. Sedang saya, hanya bisa cemburu dan bengong, melihat kalian berseliweran bolak balik mencari tempat semedi. Tapi itu semua membuat saya jadi gatal untuk kembali berkarya setelah hampir dua tahun vakum. Kalian menginspirasi saya, untuk juga membuat sesuatu dan terbitlah tulisan ini. Tulisan tentang kalian.

Bukan sekedar berkarya, kalian menginspirasi. Maka teruslah bergerak, sebarkanlah ciptaan indah tuhanmu. Hingga manusia kelu dan alam berujar syahdu “faa biayyi alaai Robbikumaa tukadzibaan”

mq: Karya dengan bentuk apapun itu adalah hasil rasa yang terjawantahkan dengan cipta pikiran dan terekspresikan melalui keahlian.

by. aisha aliyy

Image

Judul buku                   :   The Naked Traveler 3

Pengarang                   :   Trinity

Penerbit                       :   B-First

Tahun Terbit                 :   2011

Tempat Terbit               :   Yogyakarta

Tebal Halaman             :   324 halaman

Welcome back, Trinity!. Trinity balik lagi dengan segudang cerita menarik tentang petualangannya menjelajahi dunia. Buat yang belom kenal, Trinity adalah seorang penulis lawas (kalo nggak mau dibilang tua) dibidang traveling. Bukunya The Naked Traveler dan The Naked Traveler 2 laris asyik (bukan makanan, jadi nggak bisa dibilang laris manis) dipasaran. Selain sebagai penulis buku, Trinity juga menjabat sebagai Editor in Chief sebuah majalah travel ternama “Venture”, pengisi program traveling di radio Indika FM, blogger, dan kolumnis di Yahoo! Travel. Bisa dibilang, beliau adalah petualang sejati. Beliau bukan tipikal pejalan yang hanya mengikuti panduan-panduan umum kemana dan bagaimana menuju tempat tujuan, tapi beliau membuat seri petualangannya sendiri. Bahkan terkadang tidak mengunjungi tempat-tempat wisata, tapi hanya berjalan dan mengenal banyak orang di wilayah tersebut. Di buku ini Trinity menuangkan segala macam pengalamannya, baik ketika mengunjungi suatu tempat maupun bagaimana keadaan masyarakat di daerah tersebut.

The Naked Traveler, berisi potongan-potongan cerita sang penulis diberbagai negara yang dikunjunginya. Banyak cerita-cerita baru (dan sangat lucu) yang akan membuat kita berkata “hmm…ini baru bener-bener petualangan”. Secara, penulis emang suka banget berpetualang ke tempat-tempat yang nggak biasa. Bahkan, buku ini dibuka dengan pengalaman penulis dalam “Tur Hantu” (hah! apan tuh?!!) dan tempat berlangsungnya “Tur Hantu” ini di Bandung. Kita semua kan tahu, yang namanya ke Bandung, kalo nggak belanja ya wisata kuliner. Tapi ternyata ada loh hal-hal yang nggak biasa yang bisa kita jalanin, contohnya ya “Tur Hantu” ini. Dan masih segambreng lagi cerita menarik di buku ini.

Si Ninik (secara, hitung-hitung umur kayanya dah tua, hehe..) yang satu ini, memiliki gaya khas penulisan yang ringan, jadi situasi dan kondisi yang dialaminya walaupun terkesan biasa bisa membuat kita ngakak nggak karuan. Positifnya buku ini, penulis lebih banyak mengisahkan tentang kebiasaan, adat dan budaya yang unik dari penduduk tempat yang dikunjunginya, hal yang tidak biasa dari sebuah buku traveling. Selain itu, banyak banget tips-tips penting tapi singkat dan padat buat para traveles baru. Yang patut diancungin jempol, nggak semua tulisannya berisi ketawa doang, ada juga bagian yang memberikan pandangan baru (kritik dan saran), baik dari segi personal bagi para traveler maupun untuk perbaikan pariwisata negara Indonesia ke depan. Negatifnya, buku ini berantakan banget urutannya. Jadi jangan heran kalo habis nyeritain kisah petualangan di Cina, eh…nggak taunya langsung kabur ke India. Habis ujlek-ujlekan naik Onta di Sinai, menclok ke Laut Mati, dan berakhir di Onsen (pemandian air panas) di Jepang. Emang sih, tiap cerita dikelompokin berdasarkan satu tema, dan justru itu kurangnya, pengelompokan tema ini bisa membuat satu cerita diulang kembali. Yaahh…gitu deh, segala sesuatu kan memang ada segi positif dan negatifnya, tapi yang pasti tetep aja nih buku wajib banget buat dibaca, walaupun belum mungkin untuk mengikuti jejak petualangannya (kan mahal biayanya) setidaknya kita bisa menghayalkan tempat tersebut sambil ngetawain si penulisnya. Asyik kan?

AYAH

Kaku. Badanku bagaikan tertindih beban berat. Nyeri. Sekujur tubuhku bagai dikuliti dan dipilin satu persatu. ALLAH..ALLAH…ALLAH….Kosong….

“Gimana bu?” aku mendengar suara kang Ardi memanggil ibu pelan.
Aku dengar, aku dengar…rasanya aku ingin teriak, tapi tubuhku kaku, berat sekali.
“hhh….masih belum ada perubahan, Di.”
Itu suara yang amat aku rindu. Robby, aku rindu suara itu. Ibu, aku rindu suaramu. Ingin ku teriakkan kata-kata itu, tapi aku bagai terpasung. Tubuh ini tidak dapat aku gerakan. Robby…letih sekali. Kosong.

@@@@@

“Mau apa dia kemari?” bentakku sambil berjalan cepat menuju kamar. Melewati tiga pasang mata yang terbelalak melihat perlakuaanku. Mata abu-abu itu menatapku nanar, tergambar jelas hatinya bingung antara kaget, marah dan terluka.
“Fa, kok kamu begitu ngomongnya!” kang Ardi mengikutiku dengan langkah berburu.
“loh, emang kenapa. Syifa cuma nanya, ngapain dia kemari?” jawabku ketus. “minta bantuan. Atau mau minta maaf. Tapi, kayanya nggak mungkin.” Kata-kataku merunut pedas.
“Syifa!” bentak kang Ardi.
“Apa!”
“Nggak pantas kamu berkata begitu!”
“ohya, lalu kata-kata apa yang pantas untuk laki-laki macam dia!”
“Syifa, akang nggak pernah ngajarin kamu bersikap kurang ajar!” wajah kang Ardi merah menahan marah dan tangannya mengepal kuat.
“Memang bukan. Bukan kang Ardi yang mengajari Syifa, tapi laki-laki itu yang membuat Syifa keras menghadapi kenyataan…..”
PLAK!!!
Kuraba pipiku, pedih. Ohh…seperti ini rasanya ditampar. Sakit, rasanya ingin menangis. Aku benci laki-laki itu. Kang Ardi yang selalu lembut padaku pun akhirnya menamparku. Dan semua ini gara-gara laki-laki itu. Ku tatap kang Ardi. Guratan menyesal tergambar di wajahnya, tapi rahangnya tetap kukuh menghadapi aku yang sedang keras kepala.
“Syifa, perempuan berjilbab seperti kamu tak pantas bersikap seperti itu.” Kang Ardi mengingatkanku dengan keras.
“Oh begitu. Karena berjilbab jadi aku harus punya hati putih kaya salju, begitu! Aku yang sakit kang, dan dia yang salah. Ketika aku marah karena aku tersakiti, aku dilarang. Akang kira aku ini apa? dia kira dia itu siapa? Seenaknya sendiri, nggak peduli gimana perasaan orang lain. Kenapa justru Syifa yang dihakimi disini.” Raungku, benar-benar murka.
Ku tinggalkan kang Ardi dan berlari ke ruang tamu. “PUAS!!!  Sakit seperti apa lagi yang ingin kamu kasih sekarang. Untuk apa kamu kemari. Bertahun-tahun menghilang, lebih baik sekalian aja lenyap ditelan bumi untuk apa balik lagi.” makiku kepada laki-laki bermata abu-abu itu sambil menuding hidungnya. “Satu hal yang sangat ingin aku lakukan adalah menghapus semua jejakmu dalam hidupku, tahu!” ku tantang matanya yang terluka. Dia tertunduk. Tapi ketika mataku menangkap mata ibu, hatiku bergetar. Mata ibu basah, kekecewaan dan kesedihannya terpancar jelas.

Ibuuuu……

Aku tak tahan. Aku marah, benar-benar marah, aku sedih sangat sedih, aku kecewa, sangat, segala rasa bercampur aduk sampai aku tak tahu lagi. sampai rasanya aku kebas, tak sanggup membendung rasa yang bergulung dan membadai dalam hatiku. Hatiku meledak. “HWUAAAA…..” tangisku.
Tanpa sadar aku berlari keluar rumah. Aku benar-benar tak merasakan tubuhku. Sampai aku merasa tanah yang ku pijak menghilang dan sesuatu menghantam kepalaku. Nyeri, diantara rasa sakit aku masih mendengar suara berat memanggil namaku. Ayaaah….lidahku tak sempat mengucapkan kata itu.
@@@@

“Luka-lukanya pulih dengan cepat, secara fisik bahkan sudah dinyatakan sehat.” Hhh…aku mendengar dokter itu menghela nafasnya pelan. “Tapi, secara psikis, ada gangguan yang menghambatnya untuk sadar. Mungkin syok atau trauma yang sangat mengguncang, sehingga otaknya menolak untuk menerima. Kami masih terus berupaya untuk memberikan rangsangan agar nona Asyifa segera sadar. Dan kami mohon doa dan bantuan dari orang-orang terdekat agar nona Asyifa lekas sadar kembali.”
Aku sadar, bahkan aku bisa mendengar suara-suara disekitarku dan mengenalinya, aku dapat merasakan sentuhan bahkan tahu ketika ada selang dan cairan yang dimasukkan ke perutku dan sakitnya ketika mereka menyuntikku. Tapi aku benar-benar tak dapat mengerakkan tubuhku. Rasanya seperti diikatkan pada besi besar, sekuat tenaga ku kerahkan untuk menggerakkan tubuhku hasilnya nihil. Dan selalu saja kilasan ingatanku berkelebat terus menerus. Dan kenangan itu, adalah kenangan-kenangan yang sangat mempengaruhi emosiku. Tapi sekali lagi, emosiku itu, teredam karena tubuhku tidak meresponnya dan semakin menyesakkan. ALLAH…ada apa ini.

@@@@

“Bu, mereka bilang ayah pergi dengan perempuan lain bu.” Aku menangis mengadu kepada ibu. saat itu aku baru kelas lima SD dan banyak ibu-ibu iseng meledekku tentang ayahku yang pergi meninggalkan aku. Entah, apa yang membuat ibu-ibu itu tega menyakiti hatiku saat itu dan justru tertawa melihatku menangis karena ledekan mereka.
Kenangan itu melesat di ingatanku. Menyesakkan dada. Terlebih lagi ketika ingatanku memutar raut wajah ibu yang pias, menahan tangis dan luka. Aaahhh, wajah itu terlalu lemah untuk disakiti. Bahkan kelemahan ibu dan sikap nrimonya membuat ibu tak pernah mengeluh dihadapanku dan kang Ardi mengenai laki-laki itu. Laki-laki itu aku semakin membencinya.

“Kang, akang kenapa? Kok berdarah.” Tanyaku ketika kang Ardi pulang sekolah dan bajunya berlumur darah.
“nggak, akang nggak papa. Syifa dah makan?” akang malah tanya balik sambil membuka sepatu.
“Akang pasti berantem lagi ya. Teman-teman akang pasti ngeledekin akang lagi ya?” malah aku yang teriak sambil mulai menangis.
“ya.” kang Ardi menundukkan kepala sambil menghapus air matanya.
Kupeluk kang Ardi sambil menangis. Sampai kapan kami harus menanggung rasa malu dan penderitaan ini. Aku sangat sayang sama kang Ardi. Kang Ardi sangat lembut seperti ibu. saat itu ibu harus berjualan dari pagi sampai petang, demi memenuhi kebutuhan hidup. Jadi kang Ardi yang mengurusku dan menjaga rumah, kakangku yang terpaut lima tahun dariku, menjadi dewasa karena tanggung jawab yang harus dipikulnya diusia sangat muda.
“Menurut hasil penelitian ini, sebagian besar dari pecandu memang berasal dari keluarga broken home.”
Ku tatap tajam guru sosiologiku. Ketika ku edarkan pandangan, beberapa anak menatapku sambil bisik-bisik. Rasanya aku ingin sekali menggebrak meja dan kabur dari kelas itu. Siapa sih peneliti riset pecandu narkoba itu, sembarangan aja membuat kesimpulan. Marahku sampai ke ubun-ubun. Semua gara-gara laki-laki itu.

@@@@

Telingaku menangkap lantunan yang sangat ku kenal. Ibu sedang bersholawat di telingaku. Robby, beritahu ibuku aku mendengarnya. Ku rasakan kulit ibu meraba lembut tanganku. ALLAH, aku rindu menatap wajahnya. Kosong.
“Bagaimana Di?” ibu.
“Susah bu, aaaghhh….ayah sama anak sama keras kepalanya.” Kang Ardi berteriak, nadanya suaranya terdengar marah.
Ada apa? kenapa kang Ardi marah?, kang Ardi sangat jarang marah….
“Ardi tenang, tenangkan dirimu, kasihan Syifa…” ibu lagi.
“Ayah, ayah nggak mau menemui Asyifa. Ayah marah dengan peristiwa itu. Ayah tidak mau lagi bertemu Asyifa.” Suara kang Ardi parau. “Padahal Ardi sudah menceritakan ke ayah. Waktu Syifa kabur dari rumah saat itu, Asyifa terjatuh di lubang pembuatan jalan, kepala Asyifa terantuk dan masih koma sampai sekarang, tapi dia tak bergeming. Asyifa benar, dia memang egois, sangat egois.” Kata-kata kang Ardi meluap-luap.
“Beri ayahmu waktu untuk berpikir.”
Ayah….
Sebuah tangan hangat menyentuh dahiku. Tangan besar dan kasar itu membelai-belai rambutku, penuh sayang. Aku ingat rasa ini. aku ingat kehangatan ini. aku ingat betapa aku merindukan sentuhan ini. betapa sering aku memimpikan dibelai seperti ini lagi…

@@@@@

“Begitu dong, itu baru anak ayah.” Ayah tersenyum indah dimataku, saat aku bisa menjalankan sepeda roda dua pertamaku. padahal kakiku sudah berdarah-darah karena terbeset aspal atau jari-jari sepeda. Tapi kalau aku ingin sesuatu maka hal itu harus ku dapatkan apapun resikonya. Dan lihat aku bisa, dan ayah sangat bangga dengan kegigihanku.

@@@@

Saat itu rasanya indah sekali mendengar pujian ayah itu. Karena ayah bukan hanya sayang tapi juga bangga padaku. Kenangan ini, kenangan yang paling menyakitkan untukku. Dan dadaku mulai sesak.
@@@@
“Ibu, kok ayah belom pulang. Kapan ayah pulang. Syifa mau ayah, Syifa mau ayah, Syifa mau ayah….” Aku menangis sambil berontak dari pelukan ibuku. Ibu juga menangis, menghadapi keras kepala putrinya.
Aku berlari ke pintu dan berdiri di teras sambil terus menangis. Saat itu tubuhku sedang demam, aku terbangun tengah malam dan mencari ayah yang hampir seminggu tidak pulang. Tapi aku berkeras menunggu ayah pulang.
“Syifa, ayo masuk, di luar dingin nanti Syifa malah tambah sakit.” ibu masih terus membujuk. Sedang kang Ardi menangis didalam karena kasihan padaku.
Aku menunggu di luar sampai hari hampir menjelang pagi. Detik-detik, ku tunggu sosok besar yang akan membuka gerbang pintu rumahku. Ku tahan kepalaku yang pusing dan rasa tubuhku yang tidak karuan, karena aku yakin ayah akan pulang malam ini. Aku sudah kangen sekali, aku rindu bau khas ayah yang sering menggendong dan memelukku setiap ia pulang kerumah. Aku yakin ayah akan pulang.
Tapi saat aku mendengar suara adzan Shubuh berkumandang, ayah belum juga datang, sosok itu masih belum tampak dari gerbang rumah, bau khasnya masih belum tercium hidungku. Saat itu aku sadar, ayah tidak pulang dan tidak akan pulang. Aku kecewa, aku mulai terisak lagi dan akhirnya aku menangis meraung-raung sambil berteriak “aku benci ayah. Aku benci ayah”. Setelah itu aku pingsan dan sakit hampir seminggu.

@@@@

Kenangan terakhirku sangat tak tertahankan oleh hatiku, sangat berat dan menindih. Aku menangis, tubuhku merespon, aku menangis. Ternyata belaian ayah, yang membangkitkan kenangan terburukku membuat tubuhku dapat merespon perintah otakku.
“Ayah minta maaf nak. Ayah jahat. Ayah egois. Ayah membuat kamu sangat menderita. Ayah menyesal. Sangat menyesal.” Kata-kata ayah terdengar sangat dekat ditelingaku. Aku merasakan tetesan air menyentuh pipiku. Ayah menangis.
ALLAH….aku berbohong. Ya, aku marah, aku sangat marah. Tapi marahku karena aku sangat sayang padanya dan aku benar-benar merindukannya. ALLAH aku membencinya agar aku tidak mengharapkan ayah pulang lagi, karena aku tahu aku pasti akan kecewa lagi dan itu sangat menyakitkan. Tapi aku tahu, hatiku selalu ingin dia pulang, aku selalu rindu wajahnya, rindu suaranya, rindu bau khasnya. ALLAH….tapi saat ia kembali aku malah mengusirnya, kemarahanku dan kesombonganku malah melukai diriku sendiri sekarang. ALLAH…ampuni aku…aku mohon…aku ingin sekali memanggilnya untuk terakhir kali.
Ku kerahkan segenap usahaku untuk menggerakkan lidahku. Sulit, sulit sekali. Tapi aku pasti bisa. ALLAH….ku mohon…ku mohon…. Berat, terasa sangat kaku, tapi untuk kali terakhir ini saja. Ayo, ku buka mulutku perlahan, lebih besar. Tapi ternyata suara itu tak keluar.
“Ardi pangil dokter. Asyifa mengeluarkan air mata dan mulutnya bergerak-gerak. Cepat !” perintah ibuku.
Nafasku mulai tersengal-sengal, seluruh tenagaku rasanya habis.
“Syifa tak apa nak, kalau kamu masih marah sama ayah, ayah akan pergi.” Belaian ayah terhenti, dan tubuhnya bergerak menjauh, hangat yang tadi kurasakan mulai mencair.
Tidak, jangan, jangan pergi lagi ayah. Aku nggak mau ayah pergi lagi. jangan pergi.
Ku coba sekali lagi menggerakkan lidahku. ALLAH bantu….aku mohon….Ku tarik nafas
“A…Ayaaah….jangan pergi”…..
Tubuhku terasa ringan

Aisyah Ali

Jakarta, 1 November 2010